Beranda | Artikel
Antara Ibnul Arabi dengan Ibnu Arabi (Bag. 1)
9 jam lalu

Seringkali dalam mempelajari ilmu, terkhusus ilmu agama, kita dihadapkan dengan nama-nama para ulama yang sangat berjasa terhadap ilmu yang kita pelajari, rahimahumullahu jami’an.

Secara tidak langsung, kita diharuskan untuk mengenal nama-nama mereka (para ulama). Menariknya, ada di antara mereka yang namanya sama persis, di antara mereka ada yang namanya sama dengan nama ayahnya, seperti contohnya ’Abbad bin ’Abbad; ada yang laqab (gelar) penyebutannya sama, seperti Ath-Thabari, ada Ath-Thabari ahli tafsir dan ada Ath-Thabari ulama dari mazhab Syafi’i; ada pula yang kunyah-nya sama; dan seterusnya.

Hal ini bisa dilihat di dalam kitab-kitab biografi para ulama, dan kitab-kitab rijaalul hadis (para perawi hadis), seperti Lisaanul Mizan, Taqribut Tahdzib, Mu’jam Al-Mufassirin, Siyar A’laamin Nubala, dan kitab-kitab lainnya. Menjadi semakin menarik tatkala seorang penuntut ilmu dapat membedakan antara nama-nama yang ada, yang dapat terbedakan dari jalur nasabnya atau nama ayahnya.

Pentingnya mengetahui nama-nama para ulama

Dalam pembahasan ilmu hadis, terutama yang berkaitan dengan sanad, perbedaan mengenai nama-nama para ulama sering kali terjadi. Yaitu, seringkali nama-nama para ulama atau perawi yang lemah dimanipulasi agar tidak terlihat kelemahannya.

Misalnya, dalam sebuah sanad hanya disebutkan ”Dari Abu Abdirrahman”, sedangkan nama yang menggunakan kunyah Abu ’Abdirrahman banyak sekali, ada yang memang orang tsiqah (terpercaya) dan ada yang lemah riwayatnya, bahkan palsu. Lalu, siapa Abu ’Abdirrahman yang dimaksud pada sanad tersebut? Maka, sangat penting untuk mengetahu nama para ulama yang sebenarnya, agar kebenaran tetap tersampaikan dan keburukan dapat terenyahkan.

Di antara yang menarik adalah perbedaan nama Ibnul Arabi (dengan alif lam) dengan Ibnu Arabi (tanpa alif lam). Karena keduanya memiliki perbedaan yang sangat jauh sekali. Hal-hal seperti ini, jika tidak diketahui, dikhawatirkan banyak yang terjatuh kepada kesalahan-kesalahan yang dilontarkan oleh salah satu nama yang sama.

Ibnul ’Arabi (dengan alif lam) [1]

Nama beliau adalah Muhammad bin ’Abdillah bin Muhammad bin ’Abdillah bin Ahmad Al-Ma’arifi Al-Andalusi Al-Isybili. Yang sering dikenal dengan Abu Bakr Ibnul ’Arabi. Beliau adalah seorang qadhi, penghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ’alaih wa sallam, di antara pembesar fuqaha mazhab Maliki.

Beliau dilahirkan pada 22 Sya’ban 468 H di kota إشبيلية (Isybilia) yang dikenal dengan Sevilla di Spanyol. Oleh karena itu, beliau dikatakan الإشبيلي (Al-Isybili) karena beliau dilahirkan di Sevilla, tepatnya di sebelah selatan Spanyol. Di tempat itulah beliau tumbuh dan berkembang serta mengambil ilmu dari para ulama setempat.

Pada tahun 485 H, kurang lebih saat beliau berusia tujuh belas tahun, beliau berangkat rihlah ke wilayah timur bersama ayahnya, untuk belajar ilmu kepada para ulama di sana. Beliau mengambil ilmu dari para ulama di Mesir, Syam, Baghdad, dan Hijaz. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di dalam Siyar A’lamin Nubala menyebutkan nama dari guru beliau di setiap tempat yang Ibnul ’Arabi kunjungi.

Beliau kembali pulang ke kampung halaman pada tahun 495 H. Di antara alasan beliau pulang, disebutkan oleh Adz Dzahabi adalah karena ayahnya wafat. Kemudian beliau mulai mengajar, dan para penuntut ilmu berdatangan kepadanya untuk mendengarkan hadis dan juga ilmu. Beliau pernah menjabat sebagai Qadhi (Hakim) di Sevilla pada tahun 538 H, kemudian diberhentikan dari jabatannya, lalu beliaupun mendedikasikan waktunya untuk menyebarkan ilmu dan menulis karya.

Beliau wafat di dekat Fez (Fas) di daerah Maroko bulan Rabiul akhir 543 H. Beliau meninggalkan beberapa karya tulis, di antaranya,

  • Ahkaamul Qur’an;
  • An-Nasikh wal Mansukh fil Qur’an;
  • Al-‘Awashim minal Qawashim;
  • Qanun At-Ta’wil.

Dan karya tulis lainnya. Rahimahullah Ta’ala rahmatan wasi’ah.

Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) [2]

Nama beliau adalah Muhammad bin ’Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath-Tha’i Al-Hatimi Al-Mursi. Kunyah beliau adalah Abu Bakr, laqab beliau adalah Muhyiddin (penghidup agama), masyhur-nya beliau adalah Ibnu ’Arabi. Dilahirkan pada tahun 560 H di kota Mursi, Spanyol.

Disebutkan mengapa gelar beliau adalah Ath-Tha’i, dikarenakan beliau pernah menetap di Yaman dalam beberapa waktu yang cukup lama. Beliau adalah seorang yang berilmu, sufi (tasawuf) tulen. Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya,

العَلاَّمَةُ، صَاحِبُ التَّوَالِيفِ الكَثِيْرَةِ، مُحْيِي الدِّيْنِ

”Seorang yang berilmu, pemilik karya tulis yang banyak, penghidup agama.” [3]

Kemudian Adz-Dzahabi menuturkan, ”Ibnu ’Arabi tinggal di Rum (wilayah Bizantium) selama beberapa waktu. Beliau adalah sosok yang cerdas dan memiliki ilmu yang luas. Beliau pernah bekerja sebagai penulis resmi untuk sebagian penguasa di wilayah Maroko. Kemudian ia memilih hidup zuhud, menyendiri, fokus beribadah, mengasingkan diri, melakukan perjalanan, serta melepaskan diri (dari keterikatan duniawi). Ia menjelajahi wilayah Tihamah (dataran rendah) hingga Najd (dataran tinggi). Ia juga sering melakukan khalwat (menyendiri) dan menulis sangat banyak catatan mengenai tasawuf aliran Wihdatul Wujud (kesatuan wujud).” [3]

Al-Imam Taqiyuddin Al-Farisi rahimahullah juga menuturkan, “Beliau juga tinggal di kota Mekah selama beberapa tahun. Di Mekah, beliau menulis karya tulisnya, di antaranya yang beliau namakan dengan “Al-Futuhaat Al-Makkiyah”. Beliau juga memiliki karya tulis lainnya, di antaranya, “Fusush Al-Hikam”, serta banyak sya’ir yang sangat bagus dari segi kefasihan bahasanya. Namun sayangnya, beliau telah nodai atau mencoreng kehebatannya itu dengan pernyataannya secara terang-terangan mengenai ajaran Wihdatul Wujud yang mutlak. Dan beliau menyatakan hal tersebut secara tegas di dalam buku-bukunya.” [4]

Beliau wafat pada malam Jumat, 24 Rabiul akhir 638 H di Damaskus. Dan dikebumikan di sebuah komplek pemakaman yang terkenal dengan nama Turbah Bani Zaki. Demikianlah secara ringkas biografi atau latar belakang dari Ibnu ‘Arabi.

Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan,

إِنْ كَانَ مُحْيِي الدِّيْنِ رَجَعَ عَنْ مَقَالاَتِهِ تِلْكَ قَبْلَ المَوْتِ، فَقَدْ فَازَ، وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ

“Jika Muhyiddin (Ibnu ‘Arabi) telah bertobat (menarik kembali) perkataan-perkataan itu sebelum wafatnya, maka sungguh ia telah beruntung, dan hal itu bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah.” [3]

Bisa dilihat dari kedua nama, cukup terlihat perbedaan antara Ibnul ‘Arabi dengan Ibnu ‘Arabi. Di antara persamaannya adalah:

  • Berasal dari Andalus (Spanyol);
  • Kunyah-nya Abu Bakr;
  • Nama aslinya Muhammad;
  • Keduanya melalukan safar (perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu ke wilayah timur.

Dari beberapa kesamaan ini, maka perlu dibedakan. Yaitu dilihat dari alif lam-nya. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah membedakan penyebutan keduanya dalam kitabnya Majmu’ Fatawa, yaitu Ibnul ‘Arabi untuk Muhammad bin Muhammad Al-Isybili (ulama Maliki), dan Ibnu ‘Arabi (tanpa alif lam) untuk Muhammad bin ‘Ali. Yang dilakukan oleh Syekhul Islam tersebut dapat dijadikan sebagai patokan untuk membedakan antara kedua nama tersebut. Sehingga tidak tertukar antara keduanya.

Wallahu a’lam.

[Bersambung]

***

Depok, 15 Safar 1447/ 29 Juli 2026

Penulis: Muhammad Zia Abdurrofi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan Kaki:

[1] Siyar A’amin Nubala dan Mu’jam Al-Mufassirin, hal. 109.

[2] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 9; Siyar A’lamin Nubala, 23: 48; Mizaanul I’tidal, 3: 659.

[3] Siyar A’lamin Nubala, 23: 48.

[4] ‘Aqidatu Ibnu ‘Arabi wa Hayatuhu, hal. 11-12.

 

Referensi:

– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Siyar Aʿlām an-Nubalā’. Di-tahqiq oleh Shuʿayb al-Arnā’ūṭ, Bashshār ʿAwwād Maʿrūf, dkk. Cet. ke-3. 25 jilid. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1405 H/1985 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)

– Adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad ibn Aḥmad ibn ʿUthmān. Mīzān al-Iʿtidāl fī Naqd ar-Rijāl. Di-tahqiq oleh ʿAlī Muḥammad al-Bijāwī. Cet. ke-1. 4 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah, 1382 H/1963 M. (diakses melalui Maktabah Syamilah)

– Al-Fāsī, Taqiyuddīn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Alī. Juz’un Fīhi ‘Aqīdah Ibn ‘Arabī wa Hayātuh wa Mā Qālahu al-Mu’arrikhūn wa al-‘Ulamā’u Fīh. Di-tahqiq oleh ‘Alī Hasan ‘Alī ‘Abd al-Hamīd. Cet. ke-1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1404 H/1984 M.

– Al-Qādhī, Ahmad ibn ‘Abd ar-Rahmān ibn ‘Uthmān. Da‘wah at-Taqrīb baina al-Adyān: Dirāsah Naqdiyyah fī Dhaw’i al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah. Cet. ke-1. 2 jilid. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī, 1421 H/2000 M.

– Nuwaihidh, ‘Ādil. Mu‘jam al-Mufassirīn: min Shadr al-Islām hattā al-‘Ashr al-Hādhir. Cet. ke-3. 2 jilid. Beirut: Mu’assasah Nuwaihidh at-Tsaqāfiyyah, 1409 H/1988 M.


Artikel asli: https://muslim.or.id/115631-ibnul-arabi-dan-ibnu-arabi-1.html